Sabtu, 15 Oktober 2016

Filosifi Nama Karang Bolong

Pada awalnya, pantai yang berada di ruas jalan utama Anyer-Carita ini dikenal dengan nama Pantai Karang Suraga. Nama ini diambil dari Suryadilaga, nama orang sakti mandraguna pada zaman dahulu yang bertapa di tempat ini hingga akhir hayatnya. Meski Suryadilaga telah lama meninggal, masyarakat sekitar pantai ini meyakini bahwa ia masih hidup dan bermukim di pantai tersebut.

Dalam perkembangan selanjutnya, perlahan-lahan nama Karang Suraga memudar dan berganti nama menjadi Karang Bolong. Hal ini disebabkan adanya sebuah batu karang besar yang di tengahnya berlubang (bolong) dan membentuk sebuah lengkungan. Salah satu ujung karangnya berada di tepi pantai, sementara ujung karang yang satu lagi menghadap ke laut lepas.

Nama Pantai Karang Bolong diambil dari karang yang besar dan berlubang ditengah nya atau bolong.. Karang Bolong merupakan karang besar yang berlubang di tengahnya, menurut perkiraan para ahli, diperkirakan akibat letusan gunung Krakatau pada tahun 1883.

Pantai Karang Bolong berbentuk lengkung yang sangat lebar dan menghadap langsung ke laut lepas. Oleh pengelola pantai ini, beberapa bagian karang diberi anak tangga agar pengunjung bisa menaiki karangnya hingga bagian atas. Dari tempat ketinggian di atas karang itulah para pengunjung bisa menikmati pemandangan laut.

Daftar Pustaka
Nasheh Ulwan, Muhammad. 2013. Legenda Rakyat Banten. Blogspot.com pada Rabu, 27 Maret 2013

Filosofi Mercusuar Anyer

Di kawasan Anyer kita dapat menyaksikan menara tua yang disebut Mercusuar Anyer. Menara yang di bangun pada masa pemerintahan Z.M. Willem III setinggi 75,5 meter ini terdiri dari 18 tingkat, dibangun pada masa penjajahan Belanda. Dilihat dari prasasti yang tertempel di kaki mercusuar, bangunan yang terbuat dari baja setebal 2,5 cm itu sudah berusia lebih dari 170 tahun, tepatnya dibangun pada tahun 1885. Sampai kini masih berfungsi memandu kapal-kapal yang lalu-lalang di malam hari.

Menara ini diyakini sebagai titik nol jalan Anyer (Banten)-Panarukan (Jawa Timur) yang dibangun Gubernur Jenderal Daendles. Dari sinilah awal mula Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda waktu itu, memulai proyek raksasanya pada 1825. Daendels membuat jalan ekonomi Anyer-Panarukan sepanjang sekitar 1.000 km. Proyek yang menelan korban ribuan jiwa rakyat Indonesia itu menghubungkan Cilegon, Serang, Tangerang, Jakarta (dulunya bernama Sunda Kelapa, kemudian Batavia), Cirebon, Semarang, Surabaya sampai ke Pasuruan.

Penduduk sepanjang proyek perjalanan tadi bekerja tanpa dibayar atau kerja rodi. Setelah selesai, jalan yang dibangun dari keringat dan mayat bangsa Indonesia kemudian terkenal sebagai jalan Deandels atau jalan rodi. Sayangnya tak ada monument atau prasati untuk mengenang sejarah yang penuh darah itu. Konon, karena Gunung Krakatau meletus, mercusuar itu hancur lebur. Puing-puing dan pondasinya masih bisa Anda lihat beberapa meter dari mercusuar. Jadi mercusuar yang ada sekarang merupakan bangunan baru.

Bangunan itu pun nyaris rata dengan tanah akibat hantaman meriam angkatan laut Jepang sekitar tahun 1942. Meski tak sampai runtuh, namun mercusuar itu sempat rusak berat. Bekas hantaman meriam itu bisa dilihat apabila Anda naik mercusuar itu, yakni berupa lubang besar yang kini sudah ditambal. Kini, mercusuar Anyer seakan tenggelam di tengah-tengah maraknya sarana wisata modern, terutama setelah tumbuhnya resor-resor di tepi pantai. Padahal, mercusuar ini menjadi saksi bisu kekejaman penjajahan Belanda.

Daftar Pustaka
Nasheh Ulwan, Muhammad. 2013. Legenda Rakyat Banten. Blogspot.com pada Rabu, 27 Maret 2013

Jumat, 14 Oktober 2016

Filosofi Danau Tasikardi

   Tasikardi Tasikardebuah danau yang berada di kabupaten serang tepatnya di kecamatan Kramat watu dimana pada zaman dahulu tempat ini dijadikan sebagai tempat rekreasi sultan-sultan dan keluarganya, tempat pemandian para putri kerajaan, dan tempat ini juga berfungsi sebagai penampungan air. Sebelum air di tampung  di tempat ini air harus disaring terlebih dahulu. Ada 3 bangunan yang berfungsi untuk menyaring air dimana bangunan tersebut tidak lain adalah pengindelan abang ( penyarinngan merah ), pengindelan putih ( penyaringan putih), dan yang terakhir pengindelan emas ( penyaringan emas). Ketiga bangunan tersebut berada dalam satu garis lurus, menghubungkan pemandian tasikardi dengan  pemandian yang ada dalam istana surosowan. Data ketinggian untuk ketiga bangunan tersebut menunjukkan adanya beda ketinggian yang semakin menurun dimulai dari Tasikardi dengan ketinggian 4 meter, Pengindelan Merah 3 meter, Pengindelan Putih 2 meter, Pengindelan Emas 1 meter yang kemudian berakhir pada pemandian istana surosowan dengan ketinggian < 1 meter. Tentunya perbedaan ketinggian ini akan sangat memudahkan sekali dalam mengalirkan air.

    Bentuk bangunan pengindelan merah hanya berupa sebuah bangunan persegi sederhana.  Pada bagian atapnya menyerupai bagian bentuk atap yang umum terdapat pada bangunan perumahan. Bangunan Pengindelan Putih terletak ditengah sawah penduduk. Bentuk bagian atapnya berupa lengkungan setengah lingkaran. Bangunan Pengindelan Emas sudah tinggal separuhnya saja. Bagian atap sudah benar-benar hilang dan tidak diketahui bagaimana bentuk aslinya.

    Kondisi banten lama yang terletak di pinggir pantai, memiliki lingkungan tanah yang banyak menyerap air laut. Tidak ditatanya perkotaan dengan baik, mengakibatkan kota menjadi becek dan sungaipun selalu kotor. Kondisi perkotaan semacam itu bukan merupakan pemukiman yang sehat. Sehingga berjangkitnya penyakit, selalu bersifat epidemis menjadi wabah yang menular. Korban-korban yang meninggal, tidak hanya menyerang rakyat biasa melainkan juga diderita oleh orang-orang Belanda yang bermukim di Benteng Speelwijk. Karena bertambah ramainya arus lalu lintas, berjangkit pula penyakit yang dibawa oleh kapal-kapal asing yang telah melintasi samudera berbulan-bulan lamanya. Pada tahun-tahun selanjutnya, dengan lingkungan kota pelabuhan yang pengap dikelilingi tembok, wabah penyakit bukan hanya merusakkan daya tahan tubuh penduduk  tetapi juga melemahkan mental mereka.

    Pembangunan air melalui pipa-pipa yang dialirkan dari danau buatan Tasik Ardi, merupakan satu cara untuk mengatasi lingkungan pemukiman Kota Banten Lama yang 'kumuh'. Inilah latar belakang atau asal usul mengapa danau Tasikardi dibuat.

Pesan Moral
Pesan moral dilihat dari sisi Budaya peninggalan-peninggalan zaman dahulu yang masih ada sebaiknya dijaga agar tetap utuh dan terjaga kelestariannya sehingga anak cucu kita dapat menikmati keindahannya. Selain itu dari cerita ini memberikan pesan kepada kita untuk  membiasakan hidup bersih agar tidak  tidak mudah terserang penyakit.

Daftar Pustaka
Nasheh Ulwan, Muhammad. 2013. Artikel Legenda Rakyat Banten. Diterbitkan pada Rabu, 27 Maret 2013 pukul 08.44 oleh Harian Banten.

Semua Tentang Nama Anyar

Beberapa abad yang lalu Anyar bukanlah nama dari sebuah kota wisata di Barat Provinsi Serang, konon  dulu Anyar namanya ialah kota Sudi Mampir. Banyak beberapa pendapat yang menyatakan setuju bahwa Anyar adalah dulunya bagian dari kerajaan Banten. Sejak tahun 1667 Sudi Mampir berdiri, hasil dari perluasan kerajaan banten yang Berawal sekitar tahun 1526 Sudi Mampir yang Artinya ialah Rela untuk Mampir.

Pada tahun 1883 terjadi bencana besar ditanah Banten khususnya Sudi Mampir. Bencana Meletusnya gunung krakatau yang mengguncang seluruh dunia, mulai dari turunnya suhu bumi dan dentuman yang memecahkan telinga terdengar sampai Afrika. Memusnahkan seluruh kehidupan di Sudi Mampir hanya menyisakan sedikit kehidupan, Sudi Mampir tinggal Sejarah. Setelah kejadian tersebut baermunculan para pendatang dari daerah sekitar Banten seperti Pandeglang, Serang, Ciomas, Mancak, dan daerah luar Jawa (Padang, Lampung, Batak, dan Riau). Terbentuklah sebuah kota baru, dan diberi nama Anyar yang memiliki Arti “Baru”. Maklum banyak ulama dari daerah Sunda yang datang ke Daerah Anyar.

Ada seorang Ulama yang dikenal sangat baik hati dan taat ibadahnya yaitu Jasim, dikisahkan suatu hari beliau pergi melaut sesampainya dilaut langsung menurunkan jangkar dan mulai memangcing, tidak lupa beliau tidak pernah meninggalkan solatnya walaupun di atas kapal. Matahari terbenam ankat jangkar dan pulang untuk memimpin jamaah untuk melaksanakan solat magrib, beliau tidak segan membantu masyarakat Anyar yang kesusahan pernah suatu ketika tetangganya belum makan dan tidak ada apa-apa untuk dimakan, anaknya menangis karna lapar. Saat Jasim mendengar tangisan itu dia bertanya kepada ibunya, Hai saudaraku kenapa anakmu terus menangis ? “dia lapar belum makan dari kemarin,” sontak terkejut Jasim mendengar itu” tidak lama Jasim memberikan hasil tangkapan ikannya. “Memberi tidak akan membuat seseorang Jatuh Miskin” itulah yang Jasim tanamkan dalam dirinya, dia slalu membantu tetangganya dengan yang dia miliki. Lama kelamaan tetangganya Meniru sifat teladan Jasim, Anyar menjadi kota Murah untuk hidup. 10 tahun kemudian Jasim pergi melaksanakan ibadah haji, sepulang dari ibadah haji, Jasim bersama Ulama lainnya mendirikan Masjid Anyar. Dan dikenanglah para Ulama oleh masyarakat dengan membuat jalanan dengan nama para Ulama, seperti Jalan Kisepuh dan Jalan Haji Jasim. Lama kelamaan semakin banyak para pendatang dari berbagai daerah, dan mereka menyebutnya ANYAR.

Daftar Pustaka
Nasheh Ulwan, Muhammad. 2013. Legenda Rakyat Banten. Blogspot.com pada Rabu, 27 Maret 2013

Minggu, 09 Oktober 2016

Keraton Kaibon, Hadiah Untuk Sang Bunda

Kawasan Banten Lama di Kabupaten Serang banyak meninggalkan bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi. Salah satu bangunan yang masih tersisa adalah Keraton Kaibon yang terletak di Kampung Kroya, Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen. Keraton kaibon menjadi salah satu bangunan cagar budaya Provinsi Banten yang menyimpan cerita kejayaan Kerajaan Banten Lama.

Dibangun pada tahun 1815, keraton ini menjadi keraton kedua di Banten setelah Keraton Surosowan. Berbeda dengan Keraton Surosowan, sebagai pusat pemerintahan, Keraton Kaibon dibangun sebagai tempat tinggal Ratu Aisyah. Hal ini dikarenakan Sultan Syafiudin sebagai Sultan Banten ke 21 saat itu usianya masih 5 tahun. Nama Kaibon sendiri dipastikan diambil dari kata keibuan yang memiliki arti bersifat seperti ibu yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.

Keraton Kaibon dibangun menghadap barat dengan kanal dibagian depannya. Kanal ini berfungsi sebagai media transportasi untuk menuju ke Keraton Surosowan yang letaknya berada di bagian utara.

Dibagian depan keraton dibatasi dengan gerbang yang memiliki 5 pintu. Arti angka lima ini mengikuti jumlah shalat dalam satu hari yang dilakukan umat muslim. Gerbang yang bergaya Jawa dan Bali ini memiliki ketinggian 2 meter dengan bentuk Candi Bentar sebagai motifnya. Gerbang ini disebut juga dengan sebutan gerbang bersayap. Pada satu gerbang terdapat pintu paduraksa yang menghubungkan bagian depan dengan ruang utama keraton.

Ruang Utama keraton ini tidak lain adalah kamar tidur Ratu Asiyah itu sendiri. Dibangun dengan menjorok ke tanah, kamar tidur Sang Ratu dilengkapi dengan teknologi pendingin ruangan. Ini bisa terlihat dari lubang yang terdapat dalam ruangan. Lubang tersebut dahulu dapat di isi air untuk memberikan efek sejuk pada isi dalam ruangan.

Keraton yang berdiri di tanah seluas mencapai 4 hektar ini, dibangun menggunakan batu bata yang terbuat dari pasir dan kapur. Walaupun telah hancur, beberapa reruntuhan di keraton ini masih terlihat pondasi dan pilar-pilar yang utuh.

Salah satu yang terlihat jelas adalah bangunan yang menyerupai masjid. Bangunan masjid ini berada di sisi kanan gerbang. Selain pilar yang masih utuh, di dalam bangunan tersebut juga terdapat mimbar yang berfungsi sebagai tempat berdirinya khotib.

Tahun 1832 Keraton Kaibon dihancurkan oleh pihak Belanda yang dipimpin oleh Gubernur VOC saat itu, Jendral Daen Dels. Penyerangan dilakukan karena Sultan Syaifudin menolak dengan keras permintaan sang jendral untuk meneruskan pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan. Bahkan utusan jendral yang bernama Du Puy dibunuh sultan hingga kepalanya dipenggal kemudian dikembalikan kepada jendral Daen Dels. Marah besar, jendral VOC tersebut menghancurkan keraton Kaibon hingga meninggalkan puing-puing yang tersisa saat ini.

Kini, puing reruntuhan Keraton Kaibon meninggalkan cerita tentang kejayaan Banten Lama. Walaupun hanya berupa reruntuhan dan pondasi-pondasi bangunan, tidak membuat pengunjung berhenti mengunjungi cagar budaya di Provinsi Banten ini. Selain ingin melihat kejayaan Banten tempo dulu, keraton ini juga sering dijadikan pengunjung dan pasangan muda untuk mengabadikan diri dengan latar belakang keraton yang klasik serta artistik.

Daftar Pustaka
Puspitorini, Dewi. 2015. Masjid Pacinan Tinggi. Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. Jakarta

Kisah Masjid Pacinan Tinggi

Seperti namanya, Masjid Pecinan Tinggi dibangun di sebuah pemukiman cina pada masa Kesultanan Banten. Bangunan ini terletak kurang lebih 500 meter ke arah barat dari masjid Agung Banten, atau 400 meter ke arah selatan dari Benteng Speelwijk. Masjid Pecinan Tinggi terletak di kampung Dermayon, di sebelah kiri jalan raya. Penamaan Masjid Pecinan Tinggi dikarenakan pada masa silam, banyak pedagang Cina yang berdagang dan bertempat tinggal di daerah ini pada masa Maulana Hasanudin. Menurut catatan sejarah, masjid Pacinan Tinggi dibangun pada tahun 1523-1524. Masjid ini adalah masjid yang pertama dibangun oleh Syarif Hidayatullah dan dilanjutkan oleh Maulana Hasanudin. 

Berbeda dengan Masjid Agung Banten yang masih berdiri dengan kokoh, yang tersisa dari Masjid Pecinan Tinggi  tinggal menara, mihrab, dan sisa pondasi bangunan induknya yang terbuat dari batu bata dan batu karang. Menara masjid terbuat dari bata dengan pondasi dan bagian bawahnya terbuat dari batu karang. Denah menara berbentuk persegi empat dan bentuknya menyerupai menara di Masjid Kasunyatan. Bagian atas menara ini sudah hancur, sehingga wujud utuh dari bangunan ini sudah tidak nampak lagi.

Di sebelah utara menara masjid terdapat pula sebuah makam Cina yang tidak diketahui kaitannya antara makam tersebut dengan Masjid Pecinan Tinggi. Makam tersebut hanyalah satu-satunya yang terdapat di lokasi ini. Tulisan Cina yang terdapat di makam tersebut  menjelaskan bahwa yang dikuburkan di sana adalah pasangan suami istri (Tio Mo Sheng dan Chou Kong Chian) yang berasal dari desa Yin Shao, batu nisan tersebut didirikan pada tahun 1843.

Daftar Pustaka
Puspitorini, Dewi. 2015. Masjid Pacinan Tinggi. Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. Jakarta

Menelusuri Sejarah Pasar dan Pelabuhan Karangantu

Karangantu menjadi pelabuhan utama dan pasar, difungsikan sebagai pelabuhan dagang bagi lingkup lokal maupun asing. Kunjungan Tome Pires ke Karangantu tahun 1513 belum melihat pentingnya tempat ini, karena pelabuhan Sunda Kelapa masih merupakan pelabuhan terpenting bagi Pajajaran. Pada abad berikutnya Karangantu menjadi pelabuhan utama, sejak Banten diislamkan dan aktivitas Banten Girang dipindahkan ke Banten Lama. Sejak akhir abad XVI Karangantu menjadi bandar internasional utama untuk Indonesia bagian barat, terutama akibat jatuhnya Malaka ke tangan Portugis.

Perkembangan dan pertumbuhan Karangantu, baik sebagai pelabuhan maupun pasar, antara lain dapat ditelusuri melalui kajian foto udara, peta-peta kuno maupun fakta-fakta arkeologis di lapangan, diduga keletakan berubah dari keadaan sekarang.

Dari peta kuna yang dibuat oleh de Houtman ketika mengunjungi Banten pada tahun 1598, memperlihatkan bahwa kota Banten dikelilingi tembok kota dan tampak pula pasar Karangantu dikelilingi oleh pagar kayu dan bambu. Pada saat itu perluasan kota Banten mengarah ke bagian timur.

Sementara itu berdasarkan peta yang dibuat oleh Valentijn pada tahun 1725, terlihat bahwa pasar Karangantu masih ditempatnya semula dan mulai dipenuhi dengan rumah-rumah pemukiman.

Pada abad-abad XVII-XIX M, seperti tampak pada peta Serrurier yang tersohor itu, Karangantu tidak lagi ditandai sebagai sebuah pasar, hanya diberi catatan sebagai sebuah pelabuhan yang dikelilingi tambak ikan. Dewasa ini situs ini menjadi tidak penting lagi, kecuali ditandai oleh daerah pertambakan dan rawa-rawa di kampung Bugis.

Pelabuhan Karangantu berkembang dan tumbuh menjadi pusat berbagai aktivitas komersial dan bisnis, toko-toko dan pasar utama, transaksi antara para pedagang Cina dan Arab (terutama). Di sini pula terdapat pemukiman para nelayan, dok kapal-kapal, tempat pembuatan garam. Sementara itu terus ke arah selatan sepanjang sungai Cibanten terdapat lahan-lahan pertanian (padi dan sayur mayur) untuk pasokan istana.

Daftar Pustaka
Hatmadji, Tri. 2014. Ragam Pusaka Budaya Banten. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Jakarta