Sabtu, 08 Oktober 2016

Meriam Ki Amuk

Meriam Ki Amuk atau ada juga yang menyebutnya sebagai Ki Jimat memiliki ukuran diameter mulut luar 0,59 meter, mulut dalam 0,32 meter, dan diamater ndi ujung maksimal 0,70 meter dengan total panjang 3,45 meter. Ki Amuk merupakan salah satu senjata utama kesultanan Banten.

Ada beberapa versi yang menyebutkan asal mula meriam ini, salah satunya pendapat dari ahli sejarah, yang mengatakan Meriam Ki Amuk merupakan hadiah dari Sultan Trenggono dari Demak kepada Sunan Gunung Jati. Tapi ada juga yang menyatakan Meriam Ki Amuk merupakan hasil rampasan perang dari Belanda, serta hadiah dari Kompeni Belanda. Tapi yang jelas, meriam ini sangat membantu Kesultanan Banten saat berperang melawan penjajah zamannya.

Jarak tembaknya yang jauh dan suaranya yang menggelegar, menjadikan Meriam Ki Amuk sebagai senjata pamungkas dan andalan yang paling ditakuti sehingga membuat para musuh lari tunggang langgang. Oleh karena itulah meriam ini disebut dengan Meriam Ki Amuk. Dia selalu mengamuk ditengah-tengah pasukan musuh.

Sebelumnya Ki Amuk diletakan di Pelabuhan Karangantu, akan tetapi karena warga setempat beranggapan meriam ini mempunyai kekuatan gaib. Sehingga banyak warga menjalankan ritual-ritual seperti melempar koin, atau memeluk moncongnya yang konon kalau pergelangan tangannya bisa bertemu maka orang tersebut akan kaya raya. Hal ini dilakukan warga Banten maupun masyarakat dari luar tanah para jawara ini. Akibatnya meriam itu kemudian dipindah ke Banten Lama, tepatnya di depan museum.  Meski sudah dipindahkan, nyatanya masih banyak orang yang melakukan tindakan-tindakan yang berpotensi syirik itu.

Sementara itu, menurut Karel Christiaan Crucq Ki Amuk beratnya mencapai 7 ton. Hal tersebut terdapat dalam buku De Geschiedenis van het Heilig Kanon the Banten 

Keterangan pertama tentang meriam ini terdapat dalam sebuah peta perencanaan Kota Banten yang dibuat menjelang pertengahan abad ke-17. Tulisan yang terbaca “meriam besar ‘t Desperant” pada peta yang disimpan di perpustakaan Castello Firenze, Italia ini, menurut Crucq mengacu pada meriam Ki Amuk.

Meriam sepanjang lebih dari 3 meter ini, memiliki hiasan motif  Mentari Majapahit pada bagian mulutnya. Selain itu, juga didapati prasasti berhuruf Arab. Prasasti pertama, berbunyi Aqibah al-Khairi Salamah al-Imani yang artinya buah dari segala kebaikan adalah kesempurnaan iman. Sedangkan Prasasti kedua, berbunyi La fata illa Ali la saifa illa Zu al-faqar, isbir ala ahwaliha la mauta yang berarti tiada pemuda kecuali Ali, tiada pedang selain Zulfiqar, hendaklah engkau bertakwa sepanjang masa kecuali mati. 

Crucq menyimpulkan, Ki Amuk memang dibuat di Jawa Tengah pada pertengahan abad ke-16 sekitar 1529 Masehi atau tahun 1450 Saka. Angka tahun itu sama dengan pernikahan Sultan Hasanuddin Banten dengan putri Sultan Trenggana Demak. Saat itu Sultan Trenggana menghadiahi Sultan Hasanuddin sebuah meriam bernama Ki Jimat lalu berubah nama menjadi Ki Amuk Wallahualam bissawab.

Daftar Pustaka
Ridho, Rasyid. 2015. Artikel Legenda Ki Amuk dan Si Jagur Jelmaan Prajurit Demak yang Dikutuk. Diterbitkan oleh Sindo.com pada Senin, 8 Juni 2015 Pukul 05:00 WIB

Legenda Meriam Jelmaan Prajurit Demak yang Dikutuk

Kesultanan Banten adalah merupakan salah satu Kerajaan Islam terkuat wilayah Nusantara, selama hampir 3 abad mulai abad ke-15 hingga ke-18. Kesultanan Banten mampu bertahan bahkan mencapai kejayaan yang luar biasa, padahal diwaktu bersamaan penjajah dari Eropa telah berdatangan dan menanamkan pengaruhnya.

Begitu kuatnya, sehingga sejarawan Belanda bernama HJ De Graff menyatakan pada abad 17, ada dua adidaya yang sangat disegani Belanda di kawasan Jawa waktu itu yakni Mataram dan Banten. Penilaian De Graff merujuk pada kualitas dan kuantitas pertahanan militer Kesultanan Banten.

Selain dikenal memiliki pasukan infanteri yang terlatih, benteng pertahanan kokoh dan angkatan laut yang kuat, pertahanan militer Banten juga dilengkapi perangkat artileri yang mumpuni pada zamannya. Salah satunya yang legendaris adalah Meriam Ki Amuk. 

Selain Ki Amuk terdapat juga Meriam Si Jagur. Sedemikan hebatnya Meriam Ki Amuk, sehingga banyak warga yang beranggapan bahwa meriam ini mempunyai kekuatan gaib. Karena kekuatan suara dentumannya bisa membuat ciut hati pasukan musuh yang mendengarnya. Selain itu ketika meledak dapat membuat musuh kocar-kacir. Hal ini dibuktikan ketika melawan armada laut Portugis maupun Belanda yang akan mendarat di Pantai Banten pada abad ke-15 dan abad ke-18 

Konon kedua meriam kembar ini Ki Amuk dan Si Jagur adalah jelmaan dari prajurit Demak yang dikutuk sehingga berubah wujud menjadi meriam. Hal itu bermula ketika wilayah Pelabuhan Banten yang dikenal sebagai pelabuhan niaga rempah-rempah yang cukup terkenal sampai ke daratan Eropa yang menyebabkan banyak menjadi incaran bangsa asing. Sehingga wilayah Banten yang saat itu ada di bawah pemerintahan Kerajaan Demak dalam keadaan terancam.

Sultan Demak lalu mengirim pasukannya ke Banten di bawah pimpinan prajurit-prajurit pilihannya. Di antara prajurit pilihannya itu terdapat tiga bersaudara prajurit yang terjun ke medan laga. Salah satu dari tiga prajurit pilihannya itu adalah seorang wanita. 

Dengan gagah berani mereka memimpin anak buahnya menghadang penyerbuan balatentara Portugis yang datang dari arah laut. Namun, saat menjalankan tugas negara itulah dua kakak beradik lelaki dan perempuan yang ternyata kembar itu melanggar larangan leluhur mereka. Yakni dengan mandi air laut pada waktu matahari bersinar terik. Akibatnya mereka terkena kutukan dan berubah wujud menjadi sepasang meriam.

Melihat kejadian yang menimpa saudara kembarnya itu, si adik berniat untuk membawa pulang kedua meriam itu ke Demak untuk dipersembahkan pada rajanya. Untuk memudahkan membawanya, kedua meriam itu lalu dipasangi dua buah gelang oleh seorang pandai besi yang bertempat tinggal di sebuah desa di kaki gunung. Desa tempat pandai besi yang memberi tambahan gelang pada meriam itu lalu diberi nama Pandaigelang, yang akhirnya menjadi nama Kota Pandegelang.

Sebelum dibawa pulang kedua meriam ini dipakai untuk menggempur musuh yang akan mendarat di Pantai Banten. Ternyata kedua meriam itu memberi andil yang cukup besar dalam peperangan yang berkecamuk di Pantai Banten tersebut.

Kedua meriam itu nampak seperti mengamuk dengan menimbulkan suara menggelegar memuntahkan peluru ke arah musuh-musuhnya. Akibat jasanya itu, kedua meriam itu lalu diberi nama Ki Amuk dan Si Jagur. Ki Amuk bisa dilihat di Museum Situs Banten Lama, namun Si Jagur sekarang berada di Museum Fatahillah, Jakarta.  

Daftar Pustaka
Ridho, Rasyid. 2015. Artikel Legenda Ki Amuk dan Si Jagur Jelmaan Prajurit Demak yang Dikutuk. Diterbitkan oleh Sindo.com pada Senin, 8 Juni 2015 Pukul 05:00 WIB

Jumat, 07 Oktober 2016

Gunung Pulasari, Kunci Penaklukkan Banten Girang oleh Sunan Gunung Jati

Gunung Pulasari dan Banten Girang adalah dua titik sentral dalam kronik sejarah Banten. Beragam penemuan benda bersejarah yang berasal dari zaman relatif kuno membuktikan, di tempat ini telah berdiri kerajaan sebelum Islam.

Dalam artikel kali ini, saya akan mengulas mengenai hubungan Gunung Pulasari dengan Banten Girang yang masa itu adalah sebuah kerajaan. Sebelum itu, jangan lupa catat hal - hal penting yang ada pada artikel ini. Oke langsung saja yah.

Gunung Pulasari adalah gunung berapi yang terletak di Kabupaten Pandeglang. Walaupun tidak ada data letusan yang pernah terjadi, tapi terdapat aktivitas fumarol yang terjadi di dinding kaldera dengan kedalaman 300 meter.

Di tempat ini bermukim seorang penguasa bernama Pucuk Umun, yang tak lain adalah Raga Mulya yang merupakan raja terakhir Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan Pajajaran. Nama ini dalam naskah Wangsakerta disebut juga sebagai Prabu Suryakancana, sedangkan dalam Carita Parahiyangan dikenal dengan nama Nusya Mulya.

Prabu Suryakancana tidak berkedudukan di Pajajaran, tetapi di Pulasari, Pandeglang. Oleh karena itu, ia dikenal pula sebagai Pucuk Umun (Panembahan) Pulasari (mungkin raja ini berkedudukan di Kaduhejo, Kecamatan Menes pada lereng Gunung Pulasari).

Dalam buku "Banten; Sejarah dan Peradaban Abad X - XVII", Claude Guillot tak menceritakan soal Pucuk Umun. Guillot hanya menjelaskan pembuatan candi Siwa bergaya Jawa di atas gunung keramat Pulasari berbarengan dengan pembangunan komplek istana Banten Girang

Menurut Guillot, kebersamaan waktu antara pendirian komplek istana Banten Girang dengan pembangunan candi Siwa di Pulasari pada abak ke-10 dengan gaya Jawa, membawa hipotesis hubungan Banten Girang dengan Pulasari. Maka dengan demikian kota (Banten Girang) ini merupakan ibu kota sebuah negara pesisir yang didirikan pada abad tersebut dan kemungkinan besar oleh orang Jawa asal Jawa Tengah.

Candi Siwa yang dibangun di Pulasari, dapat dilihat jejaknya dari penemuan sejumlah arca yang dikenal dengan Arca Caringin yang saat ini berada di Museum Nasional di Jakarta. Arca-arca tersebut, sebelumnya diangkut oleh asisten residen Belanda dari dekat kawah Gunung Pulasari.

Arca Caringin terdiri dari lima arca yang menggambarkan Siwa Mahadewa, Durga, Betara Guru, Ganesa, dan Brahma. Tahun 1850 seorang ilmuwan bernama Friederich yang melakukan penelitian terhadap Arca Caringin, menyimpulkan bahwa arca-arca tersebut bukanlah peninggalan kerajaan Pajajaran, bukan pula peninggalan kerajaan Majapahit, melainkan berasal dari zaman yang relatif kuno sebelum Pajajaran.

Guillot sampai pada sebuah kesimpulan, setelah jatuhnya Kerajaan Jawa Tengah sekitar tahun 930 M, para elitnya kebanyakan pindah ke Jawa Timur, tetapi sekelompok kecil, mungkin yang berasal dari Sunda di Jawa Tengah, dengan alasan yang tak diketahui, memilih untuk pergi ke Jawa Barat yang saat itu berada dalam kekuasaan Sriwijaya.

Di bawah kekuasaan Sriwijaya, pada tahun 932 mereka mendirikan kerajaan yang tunduk pada Sriwijaya. Kerajaan itu dinamakan Kerajaan Sunda, tepat di wilayah Kerajaan Tarumanegara yang punah lebih dari dua setengah abad sebelumnya.

Dalam sumber lain disebutkan, Tarumanegara pada abad ke-5 menguasai Banten. Salah satu prasasti peninggalan Tarumanegara adalah Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Lebak, yang ditemukan di Kampung Lebak, di tepi Ci Danghiyang, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang.

Para pendiri Kerajaan Sunda ini, membawa serta kebudayaan serta kepercayaan di tempat asal mereka. Bersamaan dengan didirikannya ibu kota di Banten Girang, mereka membangun sebuah candi Siwa di atas Gunung Pulasari dengan gaya daerah yang baru saja mereka tinggalkan. Yang menarik dari hasil penggalian fakta sejarah di atas adalah soal Gunung Pulasari yang menjadi pusat perkembangan agama saat itu, baik berdasarkan penemuan arca Caringin, maupun penemuan Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Lebak.

Karena Pulasari merupakan titik sentral religi, itulah kenapa Sunan Gunung Jati dan anaknya Hasanudin menjadikan Gunung Pulasari saebagai tujuan utama perjalanan mereka sesaat setelah mampir di Pelabuhan Banten. Disebutkan dalam Sajarah Banten seperti dikutip Guillot, Gunung Pulasari merupakan gunung keramat kerajaan Banten Girang, sehingga penting bagi mereka untuk menaklukkannya secara batin negeri yang mereka incar sebelum merebutnya secara militer.

Hal itu terbukti setelah di penghujung tahun 1526, dengan bantuan dari dalam oleh Sunan Gunung Jati, putranya Hasanudin dan terutama Ki Jongjo, salah seorang petinggi kota yang menjadi mualaf dan memihak kepada kaum Islam, pasukan Demak merebut pelabuhan Banten kemudian ibu kota Banten Girang.

Dinasti Islam menempati Banten Girang, yang tetap menjadi negara bagian dan jatuh kembali ke dalam kekuasaan Jawa. Demak mengangkat Hasanudin sebagai pemimpin. Ia memerintah selama beberapa tahun di Banten Girang sebelum ayahnya, yaitu Sunan Gunung Jati, memerintahkannya untuk memindahkan istana ke pelabuhan Banten.

Situs Banten Girang tidak benar-benar ditinggalkan. Tetapi bekas istana kemudian digunakan sebagai pesanggrahan bagi para penguasa Islam. Sampai di penghujung abad ke-17 barulah Banten Girang ditinggalkan.

Daftar Pustaka


Gulliot, Claude. 2008. Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII. Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta



Rabu, 05 Oktober 2016

Goa Banten Girang

Pada artikel sebelumnya telah dipaparkan tentang situs Banten Girang. Nah kira-kira ada yang tau tidak klo di Banten Girang tersebut ada sebuah goa?. Oke sekarang saya akan mengulas tentang goa tersebut. yukk check it out ;-)

Goa Banten Girang terletak di pinggir sunai Cibanten, Kampong Tirtalaya, Desa Saebulu, Kecematan Serang, Kota Serang. Goa itu sudah ada sebelum masuknya islam ke Banten. Goa itu biasanya digunakan untuk kepentingan kegiatan ketentaraan bagi lembaga pemasyarakatan semasa Kerajaan Banten. Saat ini banyak yang beranggapan goa itu sebagai tempat bertapanya para raja Kerajaan Banten. Apabila ada anggapan seperti itu tidak benar.

Goa itu merupakan situs sejarah Banten dan sebagai bukti nyata lahirya pusat pemerintahan Banten, karena Banten Girang menjadi pusat pemerintahan kota yang dibangun orang-orang sunda. Dari fakta itu, Banten Girang diidentikan dengan sunda pasundan. Akan tetapi dari fakta sejarah bisa diungkap jika identitas Banten yang ada hingga saata ini lahirnya masa Kesultanan Banten yang terletak di Banten Girang sebagai tempat penyebaran agam islam pertama.

Selain goa, juga terdapat makam dari Mas Jong orang Banten yang pertama masuk islam, dan yang menjembatani pengislaman di Kerajaan Banten awal. Disini juga terdapat beberapa temuan artefak dari hasil penelitian Arkeologi Situs Banten Girang pada tahun 1991, diantaranya Gerabah, keramik (keramik Vietnam abad ke 17-18, keramik Jepang abad 17-18, keramik Ching abad ke 17-18, dsb), logam serta manik-manik.

Saat ini tidak sulit bagi masyarakat yang hendak berkunjung ke Banten Girang. Sebab letaknya hanya 150 meter dari pinggir jalan raya, dan tidak jauh dari Hotel Le Dian Serang. Dari jalan raya masuk kedalam, kita akan melewati jembatan gantung. Di Banten Girang, terdapat sebuah goa peniggalan bersejarah yang sudah ada sejak ratusan tahu yang lalu.

Daftar Pustaka
Gulliot, Claude. 2008. Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII. Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta

Situs Banten Girang

Berbicara tentang Banten, tak akan lepas dari Banten Girang yang merupakan cikal bakal Banten. Salah satu tinggalan Kerajaan Banten Girang yang masih dapat ditemui adalah situs Banten Girang yang terletak di Kampung Telaya, Desa Sempu, Kecamatan Serang, Kabupaten Serang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Claude Guillot pada tahun 1988 – 1992, situs Banten Girang merupakan situs pemukiman/perkotaan. Penafsiran tersebut berdasarkan pada temuan struktur pertahanan yang berbentuk parit dan dinding tanah dengan pola yang tidak teratur. Diperkirakan situs ini berasal dari abad ke-10 dan mencapai puncaknya pada abad ke-13 – 14 Masehi. Periodisasi tersebut mengacu pada keramik asing, keramik lokal, pecahan prasasti, benda-benda logam, mata uang, sisa hewan, batu-batuan, dan manik-manik yang ditemukan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guillot.

Pada awal abad XVI, yang berkuasa di Banten adalah Prabu Pucuk Umun dengan pusat pemerintahan di Banten Girang. Adapun Banten Ilir atau Banten Lama pada masa itu berfungsi sebagai pelabuhan. Agama yang dianut Prabu Pucuk Umun dan rakyatnya ketika itu adalah Hindu – Budha. Di tepi Sungai Cibanten, terdapat goa buatan yang dipahat pada sebuah tebing jurang. Goa ini memiliki dua pintu masuk yang di dalamnya terdapat tiga ruangan.

Pada pertengahan tahun 1990-an, ditemukan sebuah arca Dwarapala di Sungai Cibanten, tidak jauh dari Situs Banten Girang. Sebagaimana dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Sungai Cibanten dahulu kala berfungsi sebagai jalur transportasi yang menghubungkan wilayah pesisir dengan pedalaman.

Di dalam Babad Banten dikisahkan tentang penaklukan seluruh wilayah Banten oleh bala tentara Islam, yang diinterpretasikan sebagai perebutan kota Banten Girang. Dalam Babad Banten juga disebutkan keterkaitan antara Banten Girang dengan Gunung Pulosari. Ketika Sunan Gunung Jati dan Hasanuddin singgah di Banten dan Banten Girang, mereka kemudian melanjutkan perjalanan hingga ke Gunung Pulosari yang menjadi tujuan utama.

Gunung Pulosari pada masa itu merupakan wilayah Brahmana Kandali, yang dihuni oleh para pendeta. Ketika Hasanuddin meng-Islamkan para pendeta, mereka disarankan untuk tetap menetap di Gunung Pulosari, sebab jika tempat itu sampai kosong akan menjadi tanda berakhirnya Tanah Jawa. Dalam Babad Banten diceritakan pula bahwa setelah kemenangan Hasanuddin, sejumlah penduduk Banten Girang yang tidak mau memeluk Islam melarikan diri ke pegunungan selatan yang hingga saat ini dihuni oleh keturunan mereka, yakni orang Baduy. Kenyataan ini didukung kebiasaan orang Baduy yang selalu berziarah ke Banten Girang.

Daftar Pustaka
Gulliot, Claude. 2008. Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII. Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta

Prasasti Cinta Dua Agama di Era Kesultanan Banten


Sebelumnya saya telah memposting sejarah tertang vihara Avalokitesvara. Nah sekarang saya mau lanjutin ceritanya, tetapi saya ingin menceritakan mengapa vihara ini didirikan, padahal di Banten sendiri pada waktu itu kebanyakan agama yang dianut adalah Islam. Oke langsung aja yah.
“Saat itu, air bah yang menggulung daratan hingga ke wilayah kesultanan, menyapu apa saja yang dilaluinya. Tapi mukjizat datang di vihara ini, air bah seolah enggan menyentuh vihara.”
Kalimat tersebut terucap dari salah seorang pandita di hadapan saya dan teman-teman, yang siang itu tengah berkunjung ke vihara Avalokitesvara, Serang, Banten. Sang pandita begitu semangat menceritakan bencana alam yang melanda di tahun 1883, saat gunung Krakatau meletus dan tsunami mengguyur daratan di sekitarnya. Kisah yang juga diabadikan dalam tulisan berbingkai di salah satu dinding vihara ini, mengingatkan kisah serupa saat tsunami melanda Aceh. Bedanya, bukan vihara, tetapi masjid-masjid di Aceh yang selamat dari kepungan air bah dari laut. Kisah tempat ibadah, yang diyakini sebagai tempat suci, apapun agamanya, adalah kisah nyata yang menyadarkan kita, sejatinya agama mengajarkan tentang kebaikan dan kesucian. Pemeluk agama yang sesungguhnya adalah yang mampu menjaga kesucian hati.
Menceritakan sejarah berdirinya vihara Avalokitesvara ini, tak lepas dari sejarah Kesultanan Banten itu sendiri. Sekitar abad ke 16, terdapat serombongan saudagar tionghoa yang tengah melakukan perjalanan menuju Surabaya, seperti dikisahkan oleh pandita vihara pada kami. Rombongan yang kehabisan bekal ini, memutuskan untuk singgah di kesultanan Banten. Salah satu anggota rombongan, Putri Ong Tien, rupanya memikat hati Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati, yang saat itu merupakan penguasa Kesultanan Banten. Budaya keislaman yang sudah mengakar kuat di masyarakat Banten kala itu, memunculkan gesekan sosial di masyarakat. Apalagi, konon sebagian dari rombongan tionghoa ini memutuskan untuk memeluk Islam dan sebagian lain tetap bertahan dengan keyakinannya sebagai umat Buddha. Singkat cerita, untuk meredakan suasana, sang sunan memutuskan untuk membangun dua tempat ibadah, yaitu, vihara Avalokitesvara untuk umat Buddha, dan masjid Menara Tinggi atau lebih dikenal dengan nama masjid Pacinan Tinggi untuk umat Islam.
Vihara Avalokitesvara masih terpelihara dengan baik dan masih digunakan sebagai tempat ibadah hingga kini dan beberapa kali mengalami renovasi tanpa mengubah struktur asli bangunan. Vihara ini memiliki satu altar utama, dimana di altar ini terdapat patung Dewi Kwan Im, yang didatangkan langsung dari Tiongkok dan merupakan peninggalan Dinasti Ming. Selain altar utama, terdapat beberapa altar kecil yang memiliki fungsi masing-masing. Ada altar untuk tolak bala, misalnya. Di belakang bangunan utama vihara, terdapat dua pohon Bodi berumur ratusan tahun, yang bibitnya pun dahulu didatangkan dari Tiongkok.
Bagaimana dengan kondisi masjid Pacinan Tinggi? Berbeda 180° dengan vihara Avalokitesvara, masjid Pacinan Tinggi tampak tak terurus dan hancur. Hanya tersisa sebuah bangunan mihrab dan sebuah menara. Ironis, di tengah kondisi masyarakat yang begitu lekat dengan nuansa islami, keberadaan masjid ini justru mengenaskan nasibnya. Apa yang menyebabkan kehancuran masjid? Friksi sosial yang muncul di amsyarakat kala itukah? Atau dihancurkan oleh Belanda seperti halnya keratin Surosowan? Entahlah. Tak ada catatan sejarah yang pasti tentang hal ini.
Sumber: Padita vihara Avalokitesvara

Vihara Avalokitesvara, Vihara Tertua di Banten

Vihara Avalokitesvara merupakan vihara tertua di Provinsi Banten, konon vihara ini sudah dibangun sejak abad 16. Pembangunan vihara ini juga tidak bisa dilepaskan dari Sunan Gunung Jati, salah satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di Indonesia. Inilah Vihara Avalokitesvara yang terletak 15 km arah utara dari Kota Serang, Banten.
Sejarah pembangunan vihara yang terletak di Kecamatan Kasemen, wilayah Banten Lama ini berkaitan dengan Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Tokoh penyebar islam di tanah Jawa ini memiliki istri yang masih keturunan kaisar Tiongkok bernama Putri Ong Tien. Melihat banyak pengikut putri yang masih memegang teguh keyakinannya, Sunan Gunung Jati membangun vihara pada tahun 1542 di wilayah Banten, tepatnya di Desa Dermayon dekat dengan Masjid Agung Banten. Namun, pada tahun 1774 vihara dipindahkan ke Kawasan Pamarican hingga sekarang.
Versi lain menyebutkan, vihara ini dibangun pada tahun 1652. Yaitu pada masa emas kerajaan Banten saat dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa.
Nama Avalokitesvara di ambil dari bahasa sangsekerta yaitui &Avalokita& yang bermakna Melihat ke Bawah atau Mendengarkan ke Bawah (“Bawah” disini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam). Serta kata &Isvara& berarti suara (suara jeritan mahluk atas penderitaan yang mereka alami).
Gerbang dengan atap berhiaskan dua naga memperebutkan mustika sang penerang (matahari) menyambut pengunjung di pintu masuk sebelum pengunjung masuk lebih ke dalam vihara yang memiliki nama lain kelentang Tri Darma ini.
Sebutan Klenteng Tri Darma diberikan karena vihara ini melayani tiga kepercayaan umat sekaligus. Yaitu Kong Hu Cu, Taoisme, dan Buddha. Walaupun diperuntukan bagi 3 umat kepercayaan namun bagi wisatawan yang beragama lain sangat diperbolehkan untuk berkunjung dan melihat bangunan yang saat ini termasuk dalam cagar budaya di Provinsi Banten ini.
Vihara Avalokitesvara memiliki luas mencapai 10 hektar dengan altar Dewi kwan Im sebagai Altar utamanya. Di altar ini terdapat patung Dewi Kwan Im yang berusia hampir sama dengan bangunan vihara tersebut. Selain itu di sisi samping kanan dan kiri terdapat patung dewa-dewa yang berjumlah 16 dan tiang batu yang berukir naga.
Kelenteng yang pernah terbakar pada tahun 2009 ini juga memiliki ukiran yang menceritakan bagaimana kejayaan Banten Lama saat masih menjadi kota pelabuhan yang ramai. Terletak di samping vihara, ukiran ini juga menceritakan bagaimana vihara ini digunakan sebagai tempat berlindung saat terjadi tsunami beserta letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883.
Catatan tentang letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 26-27 Agustus 1883 yang disertai awan panas serta tsunami hebat dan menewaskan sekitar 36.000 jiwa itu bisa ditemukan di vihara ini. Saat tsunami terjadi, orang-orang yang berlindung di dalam vihara konon bisa terselamatkan, karena bangunan vihara ini sama sekali tidak terkena dampak letusan gunung krakatau. Ada yang menyebutkan bahwa vihara tersebut selalu berada dalam lindungan dewi, oleh karena itu banyak pengunjung yang berasal dari luar Banten berdatangan untuk berdoa dan meminta perlindungan.
Di bagian belakang bangunan utama kelenteng terdapat lorong dengan lukisan-lukisan indah dan semacam asrama atau penginapan. Ada pula halaman luas dengan pohon rindang dan tempat duduk taman serta gazebo. Di bagian belakang itu juga disimpan joli atau tandu yang biasa diusung pada waktu berlangsungnya perayaan tahun baru Imlek.
Walaupun pernah mengalami musibah, bentuk dan isi yang ada di dalam vihara masih dijaga keasliannya oleh pihak pengelola. Bahkan bangunan vihara ini masih terlihat kokoh layaknya bangunan baru dengan warna merahnya yang khas.

Sumber: Padita vihara Avalokitesvara